Oleh: Ikhliva Rosalda
(Mahasiswa Prodi Tasawuf dan Psikoterapi)
Pernahkah anda merasa puas setelah berhasil mendapatkan suatu keinginan? Lalu apakah anda langsung berhenti setelah mendapatkannya atau malah muncul keinginan lain? Tidakkah anda lelah terus berusaha menggejarnya? Apakah itu yang dinamakan bahagia?
Kebahagia adalah suatu kondisi dimana seseorang merasakan kepuasan, damai, tentram, baik secara lahir maupun batin. Namun setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menciptakan dan merasakannya. Ada yang berusaha mencarinya kesana kemari. Ada juga yang bisa menciptakannya sendiri.
Setiap orang memiliki kadar kebahagian yang berbeda-beda. Ada yang bahagia dengan memiliki IPK 4. Ada yang bahagia karena memiliki banyak harta. Ada yang bahagia karena memiliki pekerjaan yang bagus. Namun ada yang bahagia hanya karena dapat memberi makan kucing jalanan. Untuk mendapatkan rasa bahagia ini seseorang akan bekerja keras sampai mendapatkan hasil yang diinginkan, setelah mendapatkannya akan muncul keinginan-keinginan lainnya. Hal ini akan terus berlanjut bahkan sampai ajal menjemput. Terkadang kebahagian itu semakin dicari maka akan semakin susah menemukannya. Seperti pada lirik lagu Five Minutes“Semakin ku kejar semakin kau jauh”.
Seiring berjalannya waktu orang-orang mulai capek mengejar yang namanya kebahagian sesaat. Mereka mulai memikirkan bagaimana menciptakan sendiri rasa bahagia itu. Seperti dalam ajaran tasawuf untuk menciptakan kebahagiaan, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Yaitu dengan mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan serta ikhlas dalam menerima segala ketetapannya. Kalau anda sudah merasa cukup dan puas akan nikmat Allah, maka tidak akan pernah muncul rasa ingin memiliki hal yang lebih besar lagi. Selain itu rasa bahagia juga dapat diciptakan dengan menghadirkan allah selalu dalam hati dengan rasa penuh cinta. Dengan demikian apapun dan bagaimanapun pahitnya hidup, maka kebahagian itu tetap akan tercipta. Sebagaimana yang disampaikan Jalaludin Rumi “Rumah yang gelap ialah rumah yang tanpa kekasih”. Rumah diibaratkan sebagai sebuah hati dan kekasih adalah Allah, jadi mana mungkin kebahagiaan itu tercipta jika Allah tidak ada didalam hati.
Dalam konteks pskologi kebahagiaan juga dapat diciptakan dengan mengenali diri sendiri. Jika anda pernah merasakan bahagia ketika mendapat pujian dari orang lain. Maka itu merupakan suatu malapetaka, karena kebahagiaan yang anda rasakan mulai bergantung pada apa yang orang lain katakan. Anda akan mulai melakukan hal-hal yang berada diluar kemampuan diri, sehingga bukan lagi kebahagiaan yang anda dapat melainkan kesengsaraan. Untuk itu perlu dilakukan penggalian lebih dalam pada diri sendiri, agar anda dapat menciptakan rasa bahagia tanpa harus mencari kesana kemari.
Y.M Bikkhu Khemendhiro dalam canel Youtube Nalanda Foundation mengatakan bahwa “Kebahagiaan itu ada di dalam diri kita didalam batin kita, dalam pikiran kita, dalam hati kita dan untuk itulah kebahagiaan itu hendanya dibuat bukan dicari”. Selain itu Y.M Bikkhu Khemendiho juga menggatakan kalau kebahagiaan itu dapat dibuat dengan beberapa cara. Yaitu dengan merasa puas dengan apa yang dimiliki, dapat menyaring mana yang keinginan dan mana yang kebutuhan, dan mengurangi keserakahan batin dengan sering berbagi kepada sesama.
Kebahagiaan adalah perasaan kesejahteraan, kepuasan, ketenangan, dan ketentraman yang hadir dalam diri seseorang. Oleh sebab itu mulailah untuk menciptakan rasa bahagia itu sendiri. Jangan sibuk mencari kesana kemari sampai harus mengorbankan banyak hal, bukan kebahagiaan yang didapat, tapi malah kesengsaraan dan rasa tertekan. Ingatlah bahwa kita hidup di dunia ini hanya sementara. Renungkan dan lakukan!

